Beranda > Kesehatan > Anak
{today-1}
Mata anak saya rusak parah, dan itu murni kesalahan saya.
Sebagai seorang ibu berusia 35 tahun, saya selalu berusaha memberikan yang terbaik bagi keluarga saya. Namun, rasa bersalah yang menghantam dada saya hari itu benar-benar tidak tertahankan ketika dokter mata menyerahkan hasil pemeriksaan optical anak sulung saya, Rayyan, yang baru berumur delapan tahun.
Rayyan divonis mengidap miopia progresif dengan minus 3.75 lengkap dengan silinder.
Dokter menatap saya dengan dingin dan berkata bahwa penglihatan Rayyan akan terus merosot setiap enam bulan seiring masa pertumbuhannya. Saya hanya bisa terdiam lemas di ruang periksa sambil menahan air mata yang tumpah ke pipi.
Dewi Lestari
Redaksi Keluarga | Diperbarui hari ini {today}
Saya merasa sangat bersalah ketika dokter menyampaikan hasil pemeriksaan mata Rayyan.
Rp 780.000
Rp 390.000
PESAN VISMAX
SEKARANG
Waktu promosi yang tersisa:
Pengiriman seluruh Indonesia
Dipercaya ribuan keluarga
Manfaat VISMAX
- Membantu menjaga mata kesehatan
- Mendukung relaksasi otot mata
- Membantu melindungi dari paparan layar
- Kaya lutein, zeaxanthin dan antioksidan alami
Testimoni Pengguna
"Setelah 2 bulan konsumsi Vismax, mata anak saya lebih nyaman melihat dan tidak sering mengucek mata lagi."
Siti Rahmawati
Ibu Rumah Tangga
Rasa Bersalah Seorang Ibu Ketika Layar Gadget Menghancurkan Penglihatan Anak
Semua mimpi buruk ini berawal dari kebiasaan sepele yang saya anggap wajar. Selama masa sekolah daring dan kesibukan rumah tangga, saya sering menyodorkan ponsel pintar agar Rayyan bisa duduk tenang berjam-jam.
Awalnya saya tidak menyadari bahaya yang sedang mengintai di balik layar terang tersebut. Tanda-tanda kerusakan mulai tampak ketika Rayyan sering mengucek kelopak matanya yang memerah setiap sore.
Ia mulai menyipitkan mata saat menonton acara kartun favoritnya di televisi dari jarak tiga meter. Nilai ujian sekolahnya merosot drastis karena ia mengaku tulisan guru di papan tulis terlihat kabur dan bergoyang.
Ketika kacamata pertamanya dipasang, hati saya hancur melihat bingkai tebal itu menutupi wajah mungilnya. Anak saya yang biasanya ceria dan aktif bermain bola kini menjadi pendiam serta minder karena diejek teman sebayanya di sekolah.